Tulisan yang ditulis dari hati | Mencoba konsisten setiap bulan Januari selama 30 hari Bercerita |
Senin, 02 Januari 2023
BELAJAR DAN MENGAJAR
Minggu, 01 Januari 2023
BULAN KELAHIRAN
Jumat, 16 Desember 2022
UANG DUA RIBU
Senin, 01 November 2021
TENTANG SETELAHNYA
Selepas pergi, sepertinya kata ikhlas yang akan terus menggema dalam hati. Serupa deru mobil yang melaju tanpa henti. Menunggu lampu lalu lintas berwarna merah. Hmm, seperti itu ya lelahnya menunggu.
"Boleh saya duduk di sini ?" Suara yang terdengar agak serak dari arah telinga kananku.
"Oh iya silahkan." Tanpa aba-aba aku berdiri dan mempersilahkannya duduk.
"Kenapa beranjak?" Tanyanya lagi.
"Masih ada urusan." Kataku tanpa menoleh.
Jam di pergelangan tanganku telah berputar 15 belas jam lewat 15 menit.
"Ya Allah, aku telat 15 menit." Seketika aku panik dan mempercepat langkah kakiku.aku hampir saja lupa dengan jam mata kuliah terakhir. Karna asik membaca buku di taman tadi.
Aku bahkan belum sempat melihat wajah seseorang yang bersuara serak tadi di taman. Ah, sudahlah tak penting juga.
Ternyata berusaha melupakan itu layaknya mencari sudut dibangun ruang yang berbentuk lingkaran. Bisakah Rania Melakukannya ? Atau ia makin tersiksa dengan keputusannya ?
Blog Series ini akan update di Blog, Spotify, dan Youtube. Stay Tune Yaa
Senin, 17 Mei 2021
AJARI AKU CARA UNTUK BAHAGIA

AJARI AKU CARA UNTUK BAHAGIA
ISBN : 978-623-6943-61-8
Penulis : Setiani Ika dan Dugy Rama Dwiguna
Penyunting : Setiani Ika
Perancang Sampul : Dugy Rama Dwiguna
Penata Letak : Setiani Ika
Aku
dan Arga memang tumbuh bersama, dengan rentang usia kami yang tidak terpaut
jauh. Namun, cinta kasih Ayah dan Ibu tidak pernah membedakan kami. Mereka
sangat mencintai kami.
Tapi, sebelum Arga lahir. Aku pernah
merasakan ada kesenjangan antara Ayah dan Ibu. Yang tidak aku mengerti. Karna,
usiaku yang masih begitu kecil untuk memahami semuanya. Sehingga aku tidak
terlalu banyak mengingat kejadian itu. Meskipun setelah Arga lahir, perdebatan
masih sering terjadi antara Ayah dan Ibu. Seakan tidak menemui titik terang.
Aku dan Arga kecil tidak pernah tahu
apa penyebab pertengkaran Ayah dan Ibu, yang aku dan Arga tahu hanyalah sikap
Ayah yang begitu over protective kepada kami. Menurutku, hal itu wajar adanya.
Antara Ayah dan anak-anaknya.
Namun,
sikap Ayah melebihi dari Ayah-ayah pada umumnya. Aku sangat merasa bersalah
pada Ibu. Karena, semua kesalahan yang kami perbuat. Ayah selalu melampiaskan
amarahnya kepada Ibu tanpa ampun.
Lalu bagaimana kisah Anggia selanjutnya. Apakah ia mampu bertahan dalam keadaan keluarga yang sedang tidak baik-baik saja ? temukan jawabannya di buku ini.
Buat kalian yang mau order bisa DM ke instagram @pelipur_id atau ke nomor whatsaap : 0895333217985
Selasa, 16 Juni 2020
BOSAN MEMULAI, JATUHNYA MASIH TERASA

"Kamu sudah bahagia, hanya saja ragumu yang sulit diterpa." Katanya.
Aku diam, masih tetap diam.
"Kenapa, dia tiba-tiba sepeduli itu?" Pertanyaan muncul dari intuisi terdalamku.
Angin sore berhembus pelan, seakan tahu bahwa aku tidak ingin diganggu. Duduk di teras rumah sambil sesekali menyapa tetanggaku yang hilir mudik lewat depan rumahku. Aktivitas sore ini. Tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa anak kecil yang mengayuh sepeda merk family kesana kemari. Sembari membuka mulut dan meminta suapan dari ibunya yang tengah asyik memegang mangkuk sambil bercengkrama dengan ibu lainnya di atas kursi.
"Rindu." Ucapku tersenyum melihatnya anak kecil itu.
Drrrrrrrt, suara getaran telpon genggamku.
Satu notifikasi dari nomor yang tidak ada dalam kontakku.
"Assalamualaikum, gimana kabarnya Ra?" Sapanya melalui pesan aplikasi WhatsApp.
Aku masih memperhatikan. Tanpa membuka ruangan chatnya.
"Siapa ya? Gak bisa tenang dikit gitu?" Tanyaku penasaran sembari menggerutu kesal karna waktu tenangku terganggu.
"Lyra, kalo ada tukang siomay, panggil yaa!" Teriak Abang rendra dari balik kamar secara tiba-tiba.
"Udah lewat bang!" Teriakku menjawab.
"Yah elu mah, bukannya bilang!" Teriaknya lagi, sembari menghampiriku ke depan teras.
"Ye, abang aja baru bilang. Coba kalo dari kemaren bilangnya." Kataku kesal.
Tanpa kata. Abang menoyor kepalaku. Dasar abang aneh.
Aku menyudahi aktivitas soreku untuk bersiap-siap mendirikan shalat msgrib dan bertadarus. Kalau tidak, Ayah pasti sedih di sana.
Satu surat sudah selesai kubaca. Beberapa menit kemudian adzan isya berkumandang. Aku lantas mendirikan isya.
Selepas itu. Kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Kubuka layar telpon genggamku. Membuka kunci layar dan mengklik ikon whatsaap.
Setelah bergeming beberapa detik. Kubuka ruangan chat yang mengirimiku pesan tadi sore.
"Kok gak ada user dan foto profilnya ya?" Tanyaku bingung.
"Males ah, lagi mau tenang." Kataku bergumam. Mengacuhkan pesan yang datang sejak petang tadi.
Tukangngetik_
🖋️Tangerang, 16 Juni 2020
Senin, 01 Juni 2020
Santri Sejuta Cerita

Penulis: IKPBT (Ikatan Penulis Bani Tamim)
Kontributor: Setiani Ika, Nurhadi Firdaus, Ayu Adela, Fifi Fauziah, Fadilatul Islamiyah, Atikah Tri Lestari , Siti Nur Fadilah, Hana Sulista, Synthia Erla dan Lili Sholihah.
ISBN: 978-623-7203-76-6
Editor: Setiani Ika
Layout : Tidar Media
Design Sampul: Tidar Media
Ilustrasi Sampul: Setiani Ika
BLURB :
Ketika aku sedang merapihkan pakaian dan
barang-barangku ke dalam lemari. Aku melihat santri baru seusiaku yang lemarinya tepat di samping lemari Agnia saudaraku. Dan sepertinya dia lebih dulu datang ke kamar.
“Kaya anak kecil, kayanya dia anak yang manja dan cengeng."Batinku seraya memperhatikannya.
“Ada apa Li?” Tanya Agnia heran melihat tatapanku.
“Eh, enggak sebenarnya…” Ucapku tiba-tiba terpotong karna kami dikejutkan oleh suara
teriakan Ukhti Hani Salsabila yang mengingatkan kami untuk bersiap-siap pergi ke masjid. Sebab waktu dzuhur akan segera tiba. Aku bergegas memakai mukena bersama Agnia. Namun, sebelum kami berangkat. Aku mengajak anak tadi untuk pergi ke masjid bersama-sama.
“Nama kamu siapa?” Tanyaku padanya.
"Eka Yulianti.” Jawabnya yang masih memainkan handphonenya sebab orang tuanya belum pulang.
“Eka, kita ke masjid bareng yuk.” Ajak Agnia sedikit ketakutan. Ternyata anak itu memang terlihat agak seram dengan tatapan matanya yang melotot ke arah kami dan gayanya yang agak sombong.
“Duluan saja.” Ucapnya tanpa melirik kami sama sekali.
“Baiklah, kami duluan yah, assalamualaikum.” Ucap kami berdua dengan rasa takut.
Bagaimana kisah Lili Sholihah dan temannya pada hari pertama di Pesantren? Yuk kita temukan Jawabannya.

ALLAH SUDAH SIAPKAN YANG TERBAIK
Mengikhlaskan kehilangan memang sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan, Apalagi kehilangan orang-orang yang disayang. Meskipun kita t...
-
Ada 7 Poin yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menulis artikel karya ilmiah. Bagi kamu para mahasiswa atau pelajar pasti sudah tak a...
-
# Bani Tamim Kaulah Jiwaku Mengarungi Ruang Nafasku Membimbingku Akhlak Dan Ilmu Demi Cerah Masa Depanku Bani Tamim Kau Pelita...
-
Hampir 2 jam lewat 15 menit aku menyimak mata kuliah siang ini. tidak habis pikir, bisa-bisanya dosen hari ini lupa dengan waktu yang dijadw...
