Senin, 02 Januari 2023

BELAJAR DAN MENGAJAR


02/365

Sulit, itu yang pertama kali aku rasakan ketika aku memutuskan untuk mendalami dunia pendidikan. 

Semenjak lulus dari bangku sekolah menengah atas, aku memang ingin sekali mendalami Ilmu Komunikasi. Tapi, saat itu Bapak mengarahkanku untuk menjadi tenaga pendidik. Katanya itu cita-citanya dan Bapak berharap aku bisa mewujudkannya cita-citanya. 

Setelah aku fikir-fikir, akhirnya aku mengiyakan permintaannya. Bismillah. Kataku. 

5 tahun berjalan dengan penuh drama serta lika-liku yang bermacam-macam. Sempat aku menyerah. Tapi beliau menguatkanku untuk tidak berhenti. 

Hingga tepat ketika tahun ketiga aku mengajar. Sesuatu yang menurutku luar biasa itu terlihat. Ternyata, Bapak benar. Aku bisa mendapatkan dua Ilmu sekaligus dalam satu tempat. 

Ilmu Komunikasi dan Ilmu Pendidikan. Ah, sungguh indah skenario-Mu❤

#30hbc2302
#30haribercerita
#coretantya

Minggu, 01 Januari 2023

BULAN KELAHIRAN


01/365 

Sejak tadi pagi hujan turun begitu deras, aku kembali menarik selimut dan memeluk bantal berbentuk tabung. Haha sebut saja dia guling.

Benar ya, setiap harapan dan do'a itu bukan diucapkan setiap tahun atau bulan saja. Melainkan setiap hari ketika kita pergi tidur untuk menyambut hari baru. 

Yaudahlah, mungkin mereka punya cara masing-masing dalam berharap. Pikirku yang masih memeluk erat bantal berbentuk tabung. 

Jadi, do'aku hari ini adalah :
"Semoga hari-hari yang aku lalui kedepannya selalu memberikan aku pelajaran dan pengalaman yang bisa membuatku menjadi sebaik-baiknya manusia. Aamiin."

Oh ya lupa, 
Sakinah Mawaddah Warrohmah yaa buat dua insan yang terekam dalam memori foto ini @bukan.siapa.siapa04 dan @ozicikoh

#30hbc2301
#30haribercerita
#coretantya

Jumat, 16 Desember 2022

UANG DUA RIBU


Jum'at sore tadi ditemani gerimis yang turun dari langit bertepatan dengan hilir mudiknya para pengendara yang hampir sebagian adalah pekerja paruh waktu. 

Sudah lama sekali aku tidak duduk dibalik kursi kemudi bersama seorang lelaki paruh baya yang kusebut dia Bapak. Sepertinya semenjak aku sudah memiliki kuda besi yang ku beli secara urunan bersama Bapak 1 tahun lalu ketika aku sedang sibuk-sibuknya PPL dan KKN waktu itu. 

Biasanya, aku selalu ikut menumpang dengannya. Pagi ketika ia berangkat kerja ataupun sore hari ketika ia pulang kerja. 

Jum'at sore itu berbeda. Tapi yang sama adalah celotehannya dibalik kaca helmnya. Jalanan yang ramai bersama motor merah hitam kesayangannya. Dia terus berceloteh. Dan itu yang selalu aku rindukan. 

"Teteh belum tahu pabrik Bapak yang baru ya?" Tanyanya yang beradu dengan suara deru kendaraan dan rintik hujan. Membuatku agak sedikit mendekatkan telinga. 

"Iyah Pak, yang dimana emang?" Tanyaku balik. Tepat tahun 2018, Tempat Bapak bekerja gulung tikar karna sudah tidak berproduksi. Tapi, alhamdulillah hanya berselang 1 bulan. Ia sudah kembali bekerja. 

Dengan panjang lebar dia menjelaskan tempat lokasinya bekerja. Aku hanya menjawab "Oh iya iya tau." 

Yang membedakan dari perjalanan-perjalanan biasanya adalah. Ketika kami melewati jalan yang sering kami lewati ada hal baru yang selama ini belum aku ketahui. 

"Teh, ada uang dia ribu gak?" Tanyanya. 

"Buat apa pak?" Kataku bingung. 

"Tuh kasih ke tukang parkir biar bisa nyebrang." Jawabnya sedikit teriak. Karna suara deru kendaraan semakin riuh. 

Tanpa berpikir lagi. Aku segera merogoh kantong tas mungilku dan memberikannya kepada tukang parkir. 

"Kasian teh, dia kadang suka dikasih gope sama yang naik mobil. Gapapa sekali-kali, lagian Bapak juga sering nyebrang." Katanya panjang lebar. 

Aku sedikit tersentak dari balik masker yang menutupi wajahku. 

"Huft, rasanya selama ini pemikiranku begitu dangkal ternyata."
Baca juga coretanku yang lainnya. 
Klik link di bio yaa

#bersamabapak#jumatberkah#sore#coretantya#tulisa#sajak#literasi#hujan#motivasi#ayah#tulisanku#pelipurlara#pelipurid

Senin, 01 November 2021

TENTANG SETELAHNYA

   





     Selepas pergi, sepertinya kata ikhlas yang akan terus menggema dalam hati. Serupa deru mobil yang melaju tanpa henti. Menunggu lampu lalu lintas berwarna merah. Hmm, seperti itu ya lelahnya menunggu. 

"Boleh saya duduk di sini ?" Suara yang terdengar agak serak dari arah telinga kananku.

"Oh iya silahkan." Tanpa aba-aba aku berdiri dan mempersilahkannya duduk. 

"Kenapa beranjak?" Tanyanya lagi.

"Masih ada urusan." Kataku tanpa menoleh.

Jam di pergelangan tanganku telah berputar 15 belas jam lewat 15 menit. 

"Ya Allah, aku telat 15 menit." Seketika aku panik dan mempercepat langkah kakiku.aku hampir saja lupa dengan jam mata kuliah terakhir. Karna asik membaca buku di taman tadi. 

    Aku bahkan belum sempat melihat wajah seseorang yang bersuara serak tadi di taman. Ah, sudahlah tak penting juga. 

    Ternyata berusaha melupakan itu layaknya mencari sudut dibangun ruang yang berbentuk lingkaran. Bisakah Rania Melakukannya ? Atau ia makin tersiksa dengan keputusannya ?




Blog Series ini akan update di Blog, Spotify, dan Youtube. Stay Tune Yaa

Senin, 17 Mei 2021

AJARI AKU CARA UNTUK BAHAGIA

 


AJARI AKU CARA UNTUK BAHAGIA

ISBN                           : 978-623-6943-61-8

Penulis                        : Setiani Ika dan Dugy Rama Dwiguna

Penyunting                 : Setiani Ika

Perancang Sampul    : Dugy Rama Dwiguna

Penata Letak             : Setiani Ika



 BLURB

Aku dan Arga memang tumbuh bersama, dengan rentang usia kami yang tidak terpaut jauh. Namun, cinta kasih Ayah dan Ibu tidak pernah membedakan kami. Mereka sangat mencintai kami.

            Tapi, sebelum Arga lahir. Aku pernah merasakan ada kesenjangan antara Ayah dan Ibu. Yang tidak aku mengerti. Karna, usiaku yang masih begitu kecil untuk memahami semuanya. Sehingga aku tidak terlalu banyak mengingat kejadian itu. Meskipun setelah Arga lahir, perdebatan masih sering terjadi antara Ayah dan Ibu. Seakan tidak menemui titik terang.

            Aku dan Arga kecil tidak pernah tahu apa penyebab pertengkaran Ayah dan Ibu, yang aku dan Arga tahu hanyalah sikap Ayah yang begitu over protective kepada kami. Menurutku, hal itu wajar adanya. Antara Ayah dan anak-anaknya.

Namun, sikap Ayah melebihi dari Ayah-ayah pada umumnya. Aku sangat merasa bersalah pada Ibu. Karena, semua kesalahan yang kami perbuat. Ayah selalu melampiaskan amarahnya kepada Ibu tanpa ampun.

Lalu bagaimana kisah Anggia selanjutnya. Apakah ia mampu bertahan dalam keadaan keluarga yang sedang tidak baik-baik saja ? temukan jawabannya di buku ini.


Buat kalian yang mau order bisa DM ke instagram @pelipur_id atau ke nomor whatsaap : 0895333217985

Selasa, 16 Juni 2020

BOSAN MEMULAI, JATUHNYA MASIH TERASA




"Kamu sudah bahagia, hanya saja ragumu yang sulit diterpa." Katanya.

Aku diam, masih tetap diam.


"Kenapa, dia tiba-tiba sepeduli itu?" Pertanyaan muncul dari intuisi terdalamku.

Angin sore berhembus pelan, seakan tahu bahwa aku tidak ingin diganggu. Duduk di teras rumah sambil sesekali menyapa tetanggaku yang hilir mudik lewat depan rumahku. Aktivitas sore ini. Tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa anak kecil yang mengayuh sepeda merk family kesana kemari. Sembari membuka mulut dan meminta suapan dari ibunya yang tengah asyik memegang mangkuk sambil bercengkrama dengan ibu lainnya di atas kursi.

"Rindu." Ucapku tersenyum melihatnya anak kecil itu.

Drrrrrrrt, suara getaran telpon genggamku.

Satu notifikasi dari nomor yang tidak ada dalam kontakku.

"Assalamualaikum, gimana kabarnya Ra?" Sapanya melalui pesan aplikasi WhatsApp.

Aku masih memperhatikan. Tanpa membuka ruangan chatnya.

"Siapa ya? Gak bisa tenang dikit gitu?" Tanyaku penasaran sembari menggerutu kesal karna waktu tenangku terganggu.

"Lyra, kalo ada tukang siomay, panggil yaa!" Teriak Abang rendra dari balik kamar secara tiba-tiba.

"Udah lewat bang!" Teriakku menjawab.

"Yah elu mah, bukannya bilang!" Teriaknya lagi, sembari menghampiriku ke depan teras.

"Ye, abang aja baru bilang. Coba kalo dari kemaren bilangnya." Kataku kesal.

Tanpa kata. Abang menoyor kepalaku. Dasar abang aneh.

Aku menyudahi aktivitas soreku untuk bersiap-siap mendirikan shalat msgrib dan bertadarus. Kalau tidak, Ayah pasti sedih di sana.

Satu surat sudah selesai kubaca. Beberapa menit kemudian adzan isya berkumandang. Aku lantas mendirikan isya.

Selepas itu. Kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Kubuka layar telpon genggamku. Membuka kunci layar dan mengklik ikon whatsaap.

Setelah bergeming beberapa detik. Kubuka ruangan chat yang mengirimiku pesan tadi sore.

"Kok gak ada user dan foto profilnya ya?" Tanyaku bingung.

"Males ah, lagi mau tenang." Kataku bergumam. Mengacuhkan pesan yang datang sejak petang tadi.


Tukangngetik_

🖋️Tangerang, 16 Juni 2020

Senin, 01 Juni 2020

Santri Sejuta Cerita








Penulis: IKPBT (Ikatan Penulis Bani Tamim)


Kontributor: Setiani Ika, Nurhadi Firdaus, Ayu Adela, Fifi Fauziah, Fadilatul Islamiyah, Atikah Tri Lestari , Siti Nur Fadilah, Hana Sulista, Synthia Erla dan Lili Sholihah.


ISBN: 978-623-7203-76-6

Editor: Setiani Ika

Layout : Tidar Media

Design Sampul: Tidar Media

Ilustrasi Sampul: Setiani Ika



BLURB :

Ketika aku sedang merapihkan pakaian dan

barang-barangku ke dalam lemari. Aku melihat santri baru seusiaku yang lemarinya tepat di samping lemari Agnia saudaraku. Dan sepertinya dia lebih dulu datang ke kamar.


“Kaya anak kecil, kayanya dia anak yang manja dan cengeng."Batinku seraya memperhatikannya.


“Ada apa Li?” Tanya Agnia heran melihat tatapanku.


“Eh, enggak sebenarnya…” Ucapku tiba-tiba terpotong karna kami dikejutkan oleh suara

teriakan Ukhti Hani Salsabila yang mengingatkan kami untuk bersiap-siap pergi ke masjid. Sebab waktu dzuhur akan segera tiba. Aku bergegas memakai mukena bersama Agnia. Namun, sebelum kami berangkat. Aku mengajak anak tadi untuk pergi ke masjid bersama-sama.


“Nama kamu siapa?” Tanyaku padanya.

"Eka Yulianti.” Jawabnya yang masih memainkan handphonenya sebab orang tuanya belum pulang.

“Eka, kita ke masjid bareng yuk.” Ajak Agnia sedikit ketakutan. Ternyata anak itu memang terlihat agak seram dengan tatapan matanya yang melotot ke arah kami dan gayanya yang agak sombong.


“Duluan saja.” Ucapnya tanpa melirik kami sama sekali.


“Baiklah, kami duluan yah, assalamualaikum.” Ucap kami berdua dengan rasa takut.


Bagaimana kisah Lili Sholihah dan temannya pada hari pertama di Pesantren? Yuk kita temukan Jawabannya.




ALLAH SUDAH SIAPKAN YANG TERBAIK

    Mengikhlaskan kehilangan memang sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan, Apalagi kehilangan orang-orang yang disayang. Meskipun kita t...